Duo si abu-abu.

Berdasarkan hasil rapat di Rektorat kemarin, ketua jurusan menunjuk aku untuk mewakili kampus dalam acara diskusi untuk baksos pada “hari tanpa tembakau sedunia”. Hari tanpa tembakau sedunia diperingati seminggu lagi, sedangkan diskusi dilaksanakan besok pagi pukul 09.00 WIT. Seluruh Universitas yang ada di Kalimantan Timur wajib mengirimkan satu mahasiswa untuk diskusi. Diskusi ini bertempat di Aula salah satu universitas swasta di Balikpapan.

Ketua jurusan yaitu Ibu Neli memberi amanat padaku, sambil membenarkan kacamatanya beliau berkata kepadaku “Mas Nugie, kamu adalah satu-satunya mahasiswa yang kami kirim untuk mewakili kampus ini, jadi untuk diskusi pada acara besok jangan terlalu pasif. Kemukakan semua pendapat kamu, tentunya yang sinergi dengan tema”. Aku hanya bisa menganggukkan kepala sebagai tanda aku paham. Aku yakin, kalau malam ini aku tidak bisa tidur, karena aku harus mempersiapkan semuanya untuk acara besok. Ibu Ketua Jurusan juga memberitahu kepadaku lewat SMS, bahwa selain dihadiri oleh Dosen dan Mahasiswa, acara tersebut dihadiri oleh Wali Kota Balikpapan dan anggota DPRD Balikpapan.

Aku dari kampus sendirian, aku tidak kenal dengan siapapun, pasti aku nanti seperti anak ayam yang sedang mencari induknya. Angan-angan atau bayanganku memang terkesan berlebihan, tetapi itulah aku.  Aku tidak pesimis, tetapi aku memang lebih memilih untuk berangan-angan yang lebih ekstrem, karena dengan angan-angan tersebut setidaknya aku pasti mempunyai niat untuk mempersiapkan diri untuk lebih baik. Malam ini aku habiskan untuk mencari materi yang berhubungan dengan diskusi besok, karena pengetahuanku memang masih minim.  Aku pemalu, mungkin aku akan jauh lebih tenang jika aku mempunyai satu teman untuk duduk disebelahku.

***********

Pagi telah tiba……

Mataku susah melek, masih ngantuk karena aku kurang tidur. Bangun kesiangan, kos sudah sepi karena teman-teman sudah pada berangkat ke kampus. Masih ada satu orang yaitu kiki, dia memang jarang ke kampus dan jarang pulang juga.

“Nugie, kamu hari ini jadi ke Balikpapan tidak?.” Tanyanya kepadaku

Dengan semangataku menjawab, “Jadi, kamu mau ikut? aku tidak ada teman ini. Berharap dia mau menemani saya.

“Tanya saja kok. Lagian itu kan undangan, nanti kalau saya ikut juga pastinya diluar.” Jawabnya dengan nada malas.

Tidak apa-apa, nanti pakai undanganku saja, jadi kamu yang masuk. Hanya basa-basi sebenarnya.  

Seraya berdiri dari duduknya, dia berseru “Waaaaaah, tidak terbayangakan. Aku tidak bisa ngomong, pasti nanti cuma senyum-senyum saja. :lol:”

Ah kamu, nyindir itu nyindiiiiir. Saya menyeringai.

Aku berlalu meninggalkan kiki, sambil garuk-garuk kepala. “Kok aku jadi kepikiran omongan kiki tadi ya? Jangan-jangan nanti aku disana beneran tidak bisa ngomong dan hanya senyum-senyum saja. Wah , gawat ini. Aku telephone Ibu Kajur saja kalau gitu.”  Terdengar bisikan dalam hati.

 Dan akhirnya aku mengambil ponsel yang ada di kamar untuk menelphone ibu kajur.

“Tut tuut tuuut kreek….” sejenak terdengar seperti suara kereta api, tapi itu suara ponsel saya pertanda telpon sudah tersambung.😉

Aku mengawali percakapan dengan salam, “Assalaamu’alaikum. Bu, ini undangannya memang hanya satu?”  tanyaku dengan harap-harap cemas.

Lalu terdengar dari seberang sana Ibu Kajur menjawab, tanpa menjawab salamku, “Iya, memang kenapa?” jawaban dan sekaligus pertanyaan ingin tahu.

“Saya tidak punya teman Bu, saya malu kalau sendirian.”  Jawabku dengan nada sedikit memelas.

Mungkin dengan wajah kaget dan sedikit heran beliau berkata “Lho, Mas Nugie ini gimana? Jangan khawatir, nanti disana banyak teman-teman mahasiswa dari universitas lain. Tenang saja, mas Nugie tidak akan sendirian.”

“Iya Bu, Nugie tahu, tapi kan tidak kenal?” jawabku merengek.

Terdengar tawa ringan dari seberang sana yang disusul dengan perkataan, “Mahasiswa kok pemalu, jadi Ketua Jurusan saja sini supaya tidak pemalu.”

“Ibu malah ngeledek, ibu punya kenalan tidak yang kira-kira nanti ikut acara di Balikpapan?” tanyaku berharap.

“Ibu punya, Ja’far namanya, dia anak dari adik saya. Mahasiswa dari Universitas Borneo semester akhir. Saya kirim nomor Hpnya nanti.” Jawab ibu Kajur.

Ada senyum menyeringai dibibirku, “Dengan senang hati bu, cepat dikirim saja Bu?”

Dengan sedikit berteriak ibu Kajur berkata “Lha kok malah merintah? Cepat berangkat, jangan sampai telat.”

Senyum kembali menyeringai di bibirku “Hehehehehe, maaf Bu. Terimakasih Bu, Segera laksanakan. Saya mengakhiri telephone.

Alhamdulillah, akhirnya saya mendapatkan teman juga.  Sambil siap-siap untuk berangkat, aku menelphone calon temanku yang dari Borneo.

Kembali terdengar suara kereta api mini, “Tut tuut tuuut…..”

Assalaamu’alaikum, dengan mas Ja’far ya?

Seorang lelaki yang menjawab  “Iya benar, apakah ini Nugie mahasiswa dari UNMUL?”

Tanpa basa-basi saya langsung nterocos ” Iya, tadi sudah diberitahu sama Ibu Kajur ya? Sekarang sudah berangkat belum mas?”

“Iya, dia Bude saya. Saya sudah sampai mas, tadi jam 5 pagi. Segera berangkat saja,saya juga tidak ada teman. Nanti saya tunggu di dekat aula. Untuk mengenali saya, nanti saya memakai hem warna abu-abu.”  Jawab Ja’far dengan lengkap.

Dengan sigap aku menjawab “Ok mas, ini sebentar lagi mau berangkat. Siap, nanti bertemu di Aula saja. Terimaksih mas.”

“Iya, sama-sama. Hati-hati dijalan, mas.” Diiringi dengan suara tanda ditutupnya telepon.

Dia langsung menutup telephonenya, padahal aku masih mau bertanya lagi.

***********

Aku berangkat dengan naik motor. Jarak Samarinda-Balikpapan biasanya aku tempuh dengan waktu 90 menit, tetapi hari ini luar biasa. Persis di Jalan Angkah, aku lihat ada pohon tumbang. Perjalanan sedikit terhambat ini membuatku terlambat pada acara diskusi. Kalau menyalahkan pohon yang tumbang rasanya tidak mungkin, ini adalah murni kesalahanku. Aku yang bangun kesiangan, terus berangkatnya mepet dengan waktu acara. Pohon tumbang ini adalah hadiah untukku.

***********

Aku terlambat 30 menit, tanpa menghubungi Ja’far aku langsung mengisi daftar hadir yang telah disediakan oleh panitia. Salah satu panitia menegurku.

Dengan wajah sedikit garang, tapi sebenarnya tidak menakutkan “Darimana mas, kok terlambat. Jadi mahasiswa itu harus bisa menghargai waktu, disiplin. Untung nara sumbernya bukan kamu.”

“Saya dari Samarinda Pak. Maaf, tadi ada pohon tumbang, jadi saya terlambat. Sudah berangkat semua ya Pak? Cepat-cepat saya mencari alasan.

“Ah, itu alasan saja. Sudah, sudah mulai dari tadi. Cepat masuk!”  jawab panitia.

Saya menjawab sambil berlalu “Iya pak, maaf.”

Aula sudah penuh, hanya ada beberapa kursi saja yang masih kosong. Aku lihat kursi belakang sudah terisi semua, yang masih kosong adalah kursi deretan nomor dua dari depan. Alhamdulillah, aku melihaat orang yang memakai hem abu-abu. Itu pasti Ja’far, dia duduk di depan, dideretan kursi nomor dua. Ada tiga kursi yang masih kosong di sebelah dia, pasti kursi itu disediakan untukku. Dengan tegap penuh percaya diri dan tentunya menjadi pandangan orang diseluruh aula, akupun jalan untuk menempati kursi tersebut. Sebelum duduk, aku menyalimi dia terlebih dahulu.

“Sudah lama mas? Bolehkah saya duduk disini?”  Seraya melemparkan senyum termanisku.

Dengan ramah dia menjawab “Sudah, silahkan duduk. Telat ya?”

Malu-malu aku menjawab “Terima kasih. iya mas, tadi ada pohon tumbang.”

Si abu-abu berkata “Jangan panggil mas, sepertinya kita satu angkatan.”

Hehehe, saya semester enam sekarang mas. Kamu semester akhir kan sekarang?” Tanyaku.

“Wah, apakah wajah saya terlihat tua ya pakai hem abu-abu ini?”  dia bertanya dengan airmuka prihatin.

“Tidak juga, masih muda kok. Terlihat seperti calon Pengusaha bukan calon Dokter.” Saya meledeknya.

“Ah, bisa saja. Saya memang bukan calon Dokter, saya mewakili teman saya yang hari ini kebetulan tidak bisa datang. Saya masih semester empat sekarang mas. Jadi saya yang harus manggil mas.” Jelasnya.

Dengan raut wajah ingin tahu saya bertanya “lho, kata Bu Neli, kamu semester akhir sekarang? Bu Neli itu Bude kamu kan?

Saya mencoba memastikan, karena jawaban dari dia tidak sesuai dengan apa yang diinformasikan oleh Ibu Kajur saya. Dia terlihat malu dan hendak menjawab. Handphoeku bergertar, ada telephone masuk dari Ja’far. Sebelum aku mengangkatnya, aku memandang mas-mas yang duduk di sebelahku. Dengan raut wajah heran aku bertanya, “handphonemu mana mas?.” Dia hanya geleng-geleng dan terlihat tambah bingung. Akhirnya aku angkat telphone dari Ja’far, dengan lirih saya menjawabnya. “Halo, halo, halo, halo, halo…………….” ternyata tidak ada suara, dan telephone terputus secara tiba-tiba. Aku mulai bingung, dia disebelahku tapi kok telephone. Ah, mungkin tidak sengaja tombol dial tidak sengaja dipencet.

***********

Waktu diskusi kelompok dimulai, masing-masing kelompok terdiri dari 18 orang dan dipandu oleh 1 Dokter. Ja’far bertanya padaku, “sudah siap materi kan mas?. Karena saya bukan bidangnya, saya hanya mewakili teman saya.”  Jelas dia.

“Sudah mas, pasti teman-teman yang lain juga sudah pada siap kok. Oiya, Bude mas Ja’far orangnya baik ya? Dia salah satu Dosen favorit saya lho?.” Sahutku dengan penuh semangat.

Mas, sepertinya kamu salah orang. Saya bukan Ja’far, nama saya Vito. Saya dari Universitas Hasanudin, jurusan peternakan.” Dia tersenyum dan hendak tertawa, bersamaan dengan itu Handphoneku kembali bergetar.

Aku mengangkat telephone sambil senyum-senyum sendiri, karena aku benar-benar malu sama Vito. Ternyata telephonemasuk dari Ja’far lagi.😆 Ja’far lebih telat dariku, padahal dia datang lebih awal. Ja’far sudah masuk aula, tetapi bingung karena sangking banyaknya orang. Aku dan si abu-abu vito menjemput si abu-abu ja’far. Aku dan Vito menyambut kedatangan Ja’far dengan senyum yang lepas dan bahagia. Ja’far langsung menyalimi kami dan tampak bingung dengan senyum kami yang lepas dan tanpa makna. Saatnya fokus untuk berdiskusi, tetapi berdiskusi dengan duo si abu-abu tentang hem abu-abu dan penyebab telatnya Ja’far.

One comment

  1. Waow.., piawai sekali dalam berbahasa penyampaian mbak.., ajarin dunk..🙄

    Walah, ngece ya mas.🙂

Hayoo...Ngomen dengan bijak, ya! ^_*

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: