Semacam Tradisi

Tahun lalu, saya pernah menulis tentang Tadarus di Bulan Ramadhan. Kali ini saya akan menulis tentang Tadarus lagi, namun beda situasi dan kondisi. Eh, lebih tepatnya bercerita ding.

Tadarus yang saya maksud di sini adalah tadarus berjama’ah yang dilaksanakan di Mushala Ar-Ridho. Mushala ini sangat dekat dengan rumah saya. Dengan melangkah pelan, tidak sampai satu menit sudah sampai. Tadarus yang dilaksanakan setelah ba’da shalat tarawih diikuti oleh adik-adik, mba-mas dan bapak-ibu.

Beberapa hari yang lalu, Tadarus sedang ramai-ramainya. Seperti biasa, aturan dalam tadarus tuh dikelompokkan. Maksud dari dikelompokkan yaitu, untuk anak-anak yang masih sekolah didahulukan untuk membaca, kemudian baru disusul para anak remaja (dewasa) serta Bapak-Ibu. Saat itu, saya berangkat tadarus bersama sepupu saya yang masih SMA. Dan di Mushala sudah banyak yang mengantri. Jika sesuai antrian, kami harusnya terakhir, karena datang pukul 20.30 WIB. Namun, karena sepupu saya masih Sekolah, jadi didahulukan. Saya paling paham dengan sepupu saya yang satu ini. Dia tidak bisa konsentrasi membaca Al-Qur’an ketika suasana ramai. Mungkin jadi buyar atau gimana, saya kurang paham.

Saat itu memang banyak sekali anak kecil di Mushala. Sebenarnya sudah biasa sih, tapi mereka pada ribut, saling dorong, mainan bedhug, pokoknya ramai. Para orangtua tidak ada yang menasehati atau hanya sekedar untuk duduk, tidak lari-lari di Mushala. Saya sih paham, karena anak-anak di Desa saya kalau dinasehati kadang tambah menjadi nakalnya. Jadi, mungkin percuma kali, ya? Tapi, ada saatnya para krucil akan diam, jika Jajanan datang. Jajanan pertama datang kira-kira pukul 09.00 WIB. Kemudian disusul dengan gelombang kedua yaitu pukul 10.00 WIB.

Takjilan Tadarus

Jajanan yang datang pertama ini, (seperti) khusus untuk krucils.ย  Saya melihat mereka pada berlomba-lomba untuk mengambil jajan tersebut, kemudian langsung dibawa pulang. Saya yakin, kalau di rumah mereka tuh sebenarnya masih banyak jajan atau takjilan yang belum dimakan. Susasana sudah sedikit tenang, kemudian sepupu saya bertanya pada saya “mengapa harus ramai di Mushala hanya untuk menunggu datangnya jajan?” Saya hanya melempar senyum manis sambil mengangkat bahu.

Pada hari yang berbeda, saya berangkat tadarus bersama Ibu. Suasana tadarus masih sama, disuguhi suasana ramainya anak-anak kecil itu. Sebelum mulai menyimak, saya bertanya kepada Ibu dengan sebuah pertanyaan yang sama (dengan sepupu saya) “mengapa harus ramai di Mushala hanya untuk menunggu datangnya jajan?”

Kemudian Ibu menjawab dengan jelas, “Lho, apakah menunggu jajan mrupakan perbuatan tidak baik? Dosakah? Anak-anakย  kan memang seperti itu, selalu ramai tak pandang tempat. Kalau dinasehati ya besoknya akan seperti itu lagi. Kamu lupa, ya? Dulu kamu juga seperti itu. Ikut Ibu tadarus hanya untuk menunggu jajan dan setelahnya kamu pamit untuk pulang. Jadi, jangan heran dengan hal semacam ini. Menurut ibu sih semacam tradisi. Kelak, anak-anak kamu juga akan merasakan dan mengalami hal semacam tradisi seperti ini”.

Saya hanya bisa bilang “oooooooo“. Mendengar penjelasan dari Ibu koq rasanya sudah tidak bisa lagi mengelak, ya? Meski saya tidak ingat, apakah dulu saya melakukan hal semacam itu. Tadisi yang dimaksud di sini adalah kebiasaan. Pasti saya akan selalu mengingat tradisi semacam ini nih. Aduh, apakah anak saya akan mengalami hal semacam tradisi ini, kelak? Entahlah. . .Hihihihi

Apakah di Desa sahabat ada tradisi semacam ini? Tradisi yang aneh, tapi nyata. . .

Ramadhan GiveawayTulisan ini diikutsertakan untuk GA dalam rangka Ramadhan Giveaway dipersembahkan oleh Zaira Al ameera, Thamrin City blok E7 No. 23 Jakarta Pusat

26 komentar

  1. kalau berjamaah yang ada aku gak baca, Alvin masih suka moody jadi tadarus sendiri aja deh

    1. Dirumah ya, Teh?

  2. wah teradisi ini mengingatkan saya akan masa kecil di kampung yang persis seperti itu, dulu lebih berkesan lagi karena masih belum ada penerangan listrik, jadi Masjid adalah saranan berkumpulkan semua usia ketika ramadhan

    1. Lebih seru ya, Pak. . .

  3. Sinta Nisfuanna · · Balas

    hihihi… di tempatku juga gitu, masjidnya cukup besar jadi sering ada takjil atau makan yang digelar setiap waktu berbuka, jadi ya gitu… sambil menunggu makanan datang, anak-anak pada heboh gak bisa diem, bagitu makanannya datang, weeer…ilang semua

    1. Ilangnya kemana, Mba?

  4. Hehehe. Namanya juga anak2. Maux yg enak2… Termasuk nunggu jajanan.๐Ÿ™‚

    1. Yang udah dewasa juga kadang ikut. .. #ups

      1. Hehehehe… Iya sih…๐Ÿ˜€

  5. Hey! Ini cocok buat para mahasiswa nih. Inspiratif! Tadarusan sambil modus jajanan gratis:mrgreen:

    1. Haaaaaaah?๐Ÿ™„

  6. Di Kweni, ada tradisi Takjilan setiap hari dengan jadwal yang sudah diatur sedemikian rupa; ada jadwal untuk anak-anak, remaja dan dewasa. Dan sepertinya, kelakuan anak-anak di Kweni, sama deh seperti kelakuan Idah masa kecil dulu, nunggu Takjilan dowang abis tu, kabur ke rumah masing-masing dan gak ngikutin kegiatan berikutnya, haha..๐Ÿ˜€

    Sukses buat GA-nya ya Dah..

    1. Hahahaha. . . #tutupan sarung

  7. sama banget pas saya masih di desa mbak. abis tarawih tadarus dan mesti ad ayg ngirim jajan banyaakk bgt. sekrang dirantau cuma bisa ngaji sendiri huhu

    1. Kalau mudik nanti nostalgia dong, Mba. ..

  8. kalau saya sih dulu nggak ada yang ngasih jajanan di mesjid. hehe. terimakasih atas partisipasinya ya๐Ÿ™‚

    1. Kasiaan banget, Mba. ..
      Sama2. . .

  9. Ikut Ibu tadarus hanya untuk menunggu jajan dan setelahnya kamu pamit untuk pulang …

    Saya ngakak membacanya Dah …
    Yaaa namanya juga anak-anak kan ?

    Salam saya

    1. Benar, Om. ..
      Yang diintai hanya makanan dowang. . .

  10. hahaha…yah, namanya jg anak kecil, yg penting mereka berlatih mencintai mesjid ya Dah^^

    1. Iya, Teh. .
      Kenalan dulu sama masjid.. .

  11. bedanya,, kalo tadarus kemaren itu tahun 2012, kalo tadarus sekarang tahun 2013

    hwehehehee๐Ÿ˜€

    1. Hohohoho. . .

      Perbedaan pada personil juga, Om. .๐Ÿ˜›

  12. Hehehehe… ^_^
    Emang mungkin itu udah jadi kebiasaan anak-anak..

    Dan rasanya selama itu bukanlah suatu kesalahan iyaa gak papah laah..
    Malah yg saya prihatin kdng ada anak-anak tpi udah sifatnya kayak orang “SOK” dewasa.. -_-
    ckckck..

    1. Itu anak2 di daerahmu ya, Mas.
      Yang sok dewasa. . .Hahahahah

  13. saya pernah muda, dan saya pernah melakukan itu, (ngareo jajane hihihi)

Hayoo...Ngomen dengan bijak, ya! ^_*

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: