Masuk Neraka Siapa Takut #Berbohong Demi Kebaikan

Apakah kalian pernah mendengar pernyataan berbohong demi kebaikan?. Saya sering mendengarnya dan pernah melakukannya.

Sebelum mengungkap sebuah cerita berbohong demi kebaikan yang pernah saya lakukan kepada Bapak saya. Saya ingin berbagi cerita ketika saya mengikuti tes masuk kerja di Surabaya. Jujur, karena dari cerita ini lah saya terus berpikir, mencari kebenaran dan timbul rasa ingin sharing melalui sebuah tulisan.

Pengalaman Berharga

Saat itu, ketentuan tes masuk kerja dilaksanakan pukul 07.00 WIB. Seluruh peserta yang akan mengikuti tes harus berada di tempat setengah jam sebelum tes dimulai. Saat itu saya sampai tempat tes pukul 06.45 WIB. Saya langsung registrasi dan mengambil kartu tes. Pukul 07.10 WIB, saya melihat seorang perempuan lari dengan penuh semangat. Untung dia mengenakan celana, jadi langkahnya panjang. Jika itu terjadi pada saya, mungkin langkah saya tidak akan secepat langkahnya. Karena saya mengenakan rok.

Dia langsung menuju tempat registrasi. Tapi apa yang terjadi? Karena registrasinya secara online, jadi panitia tidak bisa membantu apa-apa, karena sudah ditutup oleh sistem. Malang sekali nasibnya. Dia sama seperti saya, bukan warga Jawa Timur. Dia datang dari Demak, karena Surabaya pagi itu macet, jadi dia terlambat. Lalu, apa yang terjadi?

Setelah saya selesai tes, dia duduk di sekitar taman. Saya menyapanya, “Eh, belum pulang, Mba?.” Dia langsung menjawab “Belum, nunggu tes selesai. Gak enak sama orang tua”. Kemudian saya bingung. Setelah kami berkenalan dan bercerita lumayan lama, barulah saya tahu kalau ternyata dia ke tempat tes diantar oleh orang tuanya.

Terus, orang tua tau gak, kalau Mba tidak ikut tes?.” Tanya saya.

Gaklah, kalau sampai tahu bisa-bisa saya dimarahi”. Jawabnya.

Oooooo. . .Terus?”.

Saya akan bilang kalau saya ikut tes. Berbohong demi kebaikan lah”.

Ooooooo . . .”.

Adzan duhur berkumandang, saya pamit kepada Mba-nya. Langsung berjalan menuju Masjid di sekitar sembari menunggu Mba Yuni. Ketika melangkah, saya komat-kamit. “Andai itu terjadi pada saya, pasti saya akan berdosa sekali kepada orang tua”. Meski demi kebaikan, tapi orang tua pasti akan bertanya tentang hasil tes nantinya. Lalu, apakah sanggup menjawab tentang hasil tes? Apakah akan berbohong demi kebaikan lagi? Entahlah. . .

Saya pun langsung mengingat-ingat tentang perilaku atau perbuatan saya. Apakah saya pernah melakukan hal serupa? Berbohong Demi Kebaikan. Setelah dipikir-pikir, ternyata saya juga pernah melakukannya. Percakapan yang ringan tadi bernar-benar menjadi pengalaman yang berharga buat saya.

Saya PernahBerbohong Demi Kebaikan

Saya Pernah Berbohong Demi Kebaikan. Tentang suatu keadaan, dimana saat itu kondisi Ibu sedang tidak sehat. Saya di rumah hanya bersama Adik. Sedangkan Bapak masih di Serpong. Sore hari, bakda Ashar keadaan Ibu makin tidak baik. Mengeluh pusing dan susah bicara. Saya dan Adik langsung membawa Ibu periksa (lagi) ke Dokter. Setelah melalui pemerikasaan beberapa tahap, Ibu disarakan untuk rawat inap, supaya perawatannya lebih maksimal.

Malam harinya Bapak telephone menanyakan keadaan Ibu. Kemudian saya menjawab, Ibu baik-baik saja, sedang istirahat. Tanpa berkata kalau istirahanya di Rumah Sakit.

Saya berbohong dan memang sengaja berbohong. Seperti sudah direncanakan, tapi dengan niat berbohong demi kebaikan. Saya hanya tidak ingin Bapak gelisah. Saya juga tidak ingin Bapak pikirannya bercabang dan akhirnya tidak focus dengan pekerjaan. Kasihan Bapak, teman-temannya dan juga pekerjaannya.

Kepulangan Bapak ternyata tidak sesuai dengan rencana. Allah sepertinya membuat garis baru. Bapak pulang lebih awal. Tidak seperti biasanya Bapak tidak minta dijemput di terminal. Ya, Bapak langsung pulang naik angkutan umum. Setelah sampai rumah, pasti lah rumah sepi dan pintu terkunci dari luar. Bapak menelphone saya dan saya pun sudah tidak bisa berbohong lagi.

Maaf, kami di Rumah Sakit, Pak. Bapak langsung saja ke sini”. Telephone langsung saya matikan. Tentu saja karena saya takut. Saat itu juga saya langsung lemas, takut dimarahi Bapak. Hanya takut karena itu, tanpa berpikir pertanggungjawaban saya terhadapNya. Padahal, kita semua tahu “apa pun bentuk dan tindak kebohongan adalah perbuatan haram, dosa”.

Sesampainya Bapak di Rumah Sakit, Ibu masih istirahat. Bapak mendekati saya, kemudian kepala saya diuwel-uwel. Melihat wajah Bapak, saya paham kalau Bapak akan marah. Tapi karena raga terasa lelah dan hal ini sudah terjadi, Bapak pun ikhlas. Istighfar berkali-kali. Terpenting, keluarga sudah berkumpul, jadi bisa fokus untuk saling menjaga, memberi dan mengayomi.

Ketika saya berpendapat tentang berbohong untuk kebaikan, hal ini ditampik oleh Bapak. Kemudian, Bapak memberitahu tentang perilaku bohong. “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Al Israa’: 36).

Tidak ada kata yang ingin saya ucapkan saat itu, kecuali meminta maaf atas perilaku saya ini. Meski sudah diniatkan baik, namun perilaku saya telah menyimpang.

Didasari kejadian ini, saya pun mencoba mencari beberapa referensi tentang berbohong demi kebaikan. Tak lain saya gunakan sebagai pegangan hidup. Saya membaca dari beberapa artikel, bahwa tidak ada keringanan untuk berdusta dalam Islam, kecuali karena darurat atau kebutuhan yang mendesak. Itu pun dengan batas yang sangat sempit. Seperti tidak dijumpai lagi cara yang lain untuk mewujudkan tujuan yang baik itu, selain harus bohong.

Dalam kondisi “kepepet, ternyata seseorang bisa menggunakan cara “berbohong demi kebaikan” untuk mewujudkan keinginannya tanpa harus terjerumus ke jurang kedustaan. Cara itu, bernama  ma’aridh. Bentuknya, seseorang menggunakan kata ambigu, dengan harapan agar dipahami lain oleh lawan bicara.

Berkaitan dengan permasalahan saya di atas, saya sama sekali tidak menggunakan kata ambigu. Dan itu kesalahan saya. Bisa diartikan, saya bukan berbohong demi kebaikan, namun saya murni berbohong. Meskipun saya mempunyai niat baik supaya pikiran Bapak bisa tenang dan lebih fokus.

Sebenarnya definisi dari bohong sendiri sangat mudah dipahami, dinamakan bohong karena ucapannya menyelisihi apa yang ada di dalam hatinya. Namun, konteks permasalahan saya lain. Yang menurut saya, mau tidak mau harus berkata lain. Apa yang saya ucap tidak sesuai dengan keadaan dan juga kata hati.

Saya membaca di buku Hidayah yang masih sesuai dengan apa yang saya alami. Imam Nawawi berkata: “Ketahuilah, sesungguhnya berbohong itu sekalipun asalnya haram, akan tetapi dibolehkan pada beberapa keadaan dengan syarat-syarat tertentu.” (al-Adzkar, hal. 325). Mengenai syarat-syarat yang dimaksud, tentunya tidak akan saya tulis di sini. Ada yang lebih pantas menuliskannya. Tahu sendiri, kan? Pembahsan semacam itu bukan ranah saya. Hehehehe.

Hikmah

Merujuk pada keterangan yang sudah saya tulis, sekarang bagi saya tidak ada lagi kata “berbohong demi kebaikan”. Tidak bermaksud apa, tapi takut tidak bisa menyampaikan secara ambigu dan tapi untuk meminimalisir dosa. Jika ada kesalahan dalam ucap atau tulisan pada postingan ini, mohon kritik dan sarannya. Karena ini murni pengalaman pribadi dan harap maklum pemahaman saya tentang “berbohong demi kebaikan” masih sangat dangkal.

Masuk Neraka Siapa Takut

Artikel ini diikutkan sebagai peserta Fiesta Tali Kasih Blogger 2013 BlogS Of Hariyanto – Masuk Neraka Siapa Takut!!!???

Referensi:
http://www.Islamweb.net/fatwa no 63123
http://Islamqa.info/ar/ref/136367

Note: 1060 kata
Iklan

44 komentar

  1. Memang namanya berbohong itu tidak baik, tapi dalam masalah tertentu bohong masih diijinkan, misalkan berbohong untuk mendamaikan dua muslim yg berselisih atau berbohong kepada demi kemaslahatan Islam dll, karena Islam itu agama rahmatan lil alamin yg sifatnya situasional kecuali dalam hal2 akidah

    1. Itulah yang termasuk syarat2 yang tidak saya tulis, Om. Terima Kasih atas tambahannya. 🙂

  2. Artikelnya bagus.. beneran deh saya tidak bohong

    1. Kalau bohong Dosa! 😛

  3. Dalam hadist yang diriwayatkan dari ‘Asma binti Yazid:
    Dari Asma’ binti Yazid dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Bohong itu tidak halal kecuali dalam tiga hal (yaitu) suami pada istrinya agar mendapat ridho istrinya, bohong dalam perang, dan bohong untuk mendamaikan diantara manusia”.

    Di luar itu, berbohong termasuk prbuatan yang dilarang

    Semoga berjaya dalam GA
    Salam sayang selalu dari Surabaya

    1. Itulah yang termasuk syarat2 yang tidak saya tulis, Pakde. Terima Kasih atas tambahannya. Salam sayang kembali. :mrgreen:

  4. aku juga pernah bo’ong mbk,tapi ya demi kebaikan bersama….bersama apa sendiri???hiyyyaaa… ^^
    *nah,gini ajalah…yg tadi g fokus bacanya mbk 😀

    1. Gak fokus karena nyambi masak ya? Hahaha

  5. rasanya semua orang juga pernah berbohong demi kebaikan 🙂

    1. Hsssst, jangan keras2. Takut kedengeran orang jujur. 😛

      1. hahaha.. jd bisik bisik tetangga dong..

  6. iya mba….rasanya semua orang pernah melakukan yang satu ini …white lies save everyone :)…sukses GAnya mba…

    1. Mba Indah pernah juga ya? 🙂
      Makasiih ya. . .

  7. aku takuttt masuk neraka 😦 tapi sering bikin salah termasuk bohong2 putih hihi

    1. Mending nasi putih aja ya, Non. Enaaaak. . Hahauuuw

  8. berbohong demi kebaikan seperti menuangkan air putih kedalam gelas air kopi, hasilnya tetap hitam ^^
    jadi bahan renungan buat saya pribadi 🙂

    1. Jadi, air putihnya jangan dituang ya, Jeng. Biarkan putih. 🙂

  9. yap, Rosul juga pernah berbohong tapi seperti tidak berbohong. Ketika ada perempuan yang bersembunyi di rumanya, seorang laki-laki bertanya apakah Rosul melihat perempuan itu. ROsul berkata dia, ya memang tidak.. karena pada detik itu Rosul memang tidak melihat perempuan itu.
    terima kasih tulisannya 🙂

    1. Benar, cerita itu juga pernah saya baca. Terima kasih tambahannya, ya. 🙂

  10. Alhamdulillah, terimakasih sudah berkenan berpartisipasi,
    artikel sudah resmi terdaftar sebagai peserta,
    mohon dicek apakah namanya sudah ada atau belum di daftar peserta,
    bila belum, harap segera konfirmasi ke admin melalui kolom komentar yang ada,
    salam santun dari Makassar 🙂

    1. Terima Kasih kembali, Pak. 🙂

  11. Ejawantah's Blog · · Balas

    Hm…… banyak banget yang besar-besar Da….. he,,, he,, he,,,, Sukses kontesnya ya…..

    Salam

    1. Hahaha. . 😛
      Terima Kasih, Pak.

  12. kalo saya seperti mbak itu, saya akan langsung mengatakan kejadian sebenarnya ya mbak indah, karena kita memang tdk ikut tes, terus utk selanjutnya si mbak itu pasti bohong lagi. saya pasti ga tenang kalo saya yang melakukan itu mbak. terus utk kejadian yang mbak indah alami, saya mungkin akan melakukan hal yg sama juga, tapi kalo ibu sakit parah, ga mungkin saya berbohong pada ayah

    1. Mungkin si Mba-nya sangking takutnya pda orang tua kalik ya, Mba. Hehehe. 🙂

  13. ah… itu yg kata orang namanya bohong putih ya.. padahal putih item tetep saja bohong ya.. hehe… smoga sukses di GA ini ya…

    1. Iyya, Mba. Apapun bentuk bohong itu warnanya tetap hitam. Bagi saya “sekarang”. Hehehe.

  14. biasanya buat melindungi sesuatu misalnya supaya tia ada keributan. tapi lebih baik sih jujur ya 🙂

    1. Saya sekarang pilih jujur ah. Insya Allah. 🙂

  15. Saya pernah berbohong juga..untuk melindungi anak kecil yang dikejar seseorang..

    1. Anak kecilnya berlindung dibelakang punggungmu ya, Om. So sweet. . .Hihihi

  16. biasanya sih berbohong kalau sudah biasa akan jadi candu dan akan berbohong terus untuk menutupi kebohongan yang lain, pengalaman dibohongin orang soale hehehehe….. makasih ya sudah diingatkan kadang kalau sudah terdesak sering bingung mencari alasan dan keluarlah kata2 bohong…*istighfar

    1. Hihihi, kalau dibohongin sakitt ya, Mba?

  17. saya termasuk yang tidak setuju dengan istilah berbohong demi kebaikan, apapun cara dan tujuannya tetap saja berbohong. akan tetapi kalau siasat barulah bisa diterima tanpa harus berbohong. seperti kisah rasulullah ketika ditanya. Dari mana? beliau menjawab dari air. Meskipun jelas yang dimaksud oleh penanya adalah dari kota Makkah apa bukan.

    1. Terima kasih tambahan cerita dan pencerahannya Pak Narno. 🙂

    1. HuUmh. . . 🙂

  18. Bohong macam gini memang sering banget dilakukan orang2, dengan alasan supaya seseorang tidak cemas atau kepikiran. Tapi semoga seseorang itu gak marah ya, kalo misalnya sesuatu yang lebih buruk terjadi, sedangkan dia gak dikabarin 🙂

    1. Mungkin ada rasa menyesal juga nantinya ya, Kak. 🙂

  19. jadi dilematis ya Idah? Ternyata untuk mewujudkan niat baik jalannya tak mudah. Dudlak buat GA-nya 🙂

  20. kalau kebaikan untuk berbohong gimana kak? #eh #dibalikdoangitumah

    salam kenal kak 😀

  21. wah .. jadi merenung nih dgn postingan di atas, semoga sukses ya GA nya 🙂

    btw apa kbr Ida ? maaf baru bisa berkunjung lg br balik dr liburan soalnya 🙂

  22. Jangan lupa ikutan kontes Ping, yaaa…

  23. Bacanya sedih, Mak 😦 Iya sih untuk kebaikan tapi…

Hayoo...Ngomen dengan bijak, ya! ^_*

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: