Hampir Pingsan Saat Pendakian

Akhir-akhir ini di sosmed banyak melihat sharing artikel tentang berita duka pendakian. Ada dua berita duka yang sudah saya baca. Pertama berita duka pendakian Gunung Semeru dan ke dua berita duka pendakian Gunung Gede. Jika ada yang belum tahu tentang berita tersebut,  silakan baca dulu. Soalnya saya gak akan menceritakan kembali di sini. Hohohow

Dan entah mengapa, setelah membaca berita dan ulasan dari beberapa teman Blogger, koq saya jadi ingat kejadian pendakian ke Gunung Prau Dieng, ya. Ini tentang pendakian pertama saya bersama lima teman kursusan. Saya ingin menuliskannya di sini. Tidak ada kaitannya dengan berita di atas lho, ya. Tapi, membaca berita di atas, rasanya ingin menceritakan pendakian pertama saya. :mrgreen:

Satu bulan sebelum pendakian, saya selalu update cuaca Dieng. Saya aktif bertanya pada salah satu teman yang tinggal di Dieng. Saat itu, cuaca Banjarnegara sedang tak menentu. Tapi, lebih sering hujan sih. Dan kemungkinan besar, Dieng juga hujan. Secara, curah hujan Dieng kan lebih tinggi dari Banjarnegara.

Masih ingat, saat itu kami memutuskan mendaki pada malam tahun baru muharram, karena besoknya libur. Setelah selesai ngursusi di tempat Bimbel, kami langsung berangkat. Kami ber lima selesai ngursusi pukul 15.00 WIB. Setelahnya, kami berencana untuk langsung cap cus ke Patak Banteng (Dieng) yang merupakan basecamp pendakian resmi ke Gunung Prau. Rencana sedikit meleset karena pimpinan Bimbel mengajak salah satu teman saya ngobrol. Jadi, pemberangkatan ditunda.

Tepat pukul 16.00 WIB, kami berangkat dari Banjarnegara. Rintik gerimis mengundang, tapi kami tetap melanjutkan perjalanan. Memang sedikit nekat sih. Tapi, karena ada kemuan, kami yakin insya Allah ada jalan. Karena saat itu saya sedang puasa, jadi memutuskan untuk membeli siomay dan gorengan di sekitar Alun-Alun Wonosobo. Prediksi sampai Patak Banteng pas adzan Maghrib, jadi siomaynya buat buka puasa.

Pas banget dengan perkiraan! Sampai BaseCamp pas adzan maghrib. Kami bergegas mencari Mushola terdekat, beribadah dan lanjut untuk mendaki.

Setelah sholat, saya menikmati tiga gorengan! Dibilang lapar, gak begitu lapar. Dibilang gak lapar, pingin gigit gorengan. Hahaha. Tiga gorengan saya gigit bersama ceplusan cabe rawit. Nikmat banget rasanya! Sampai merasa kenyang dan saya melupakan siomay!

Tepat pukul 20.00 WIB, kami langsung melakukan pendakian. Mengapa kami memilih malam hari untuk mendaki? Karena  kami hanya mempunyai waktu satu hari dan jika pendakian dilakukan pada pagi dan atau siang hari, maka kami bakal ijin gak masuk kerja dan ngursusi. Kasian anak-anak dongs.

Berjalan kurang lebih 5 km, Pos 1 belum terlihat pula, saya hampir pingsan saudara-saudara!. Padahal jarak tempuh ini belum seberapa!. Keringat dingin keluar dan kaki lemes banget. Berasa mau mual juga. Padahal, saat itu kondisi fisik saya normal dan sehat. Dan setelah dipikir-pikir, ternyata karena saya belum makan nasi. Hyaa. . . mau gimana pun, yang namanya perut jawa, kalau belum diisi dengan nasi, tetep saja protes, ya. Mungkin ini masalah kebiasaan juga sih.

Jadi, gorengan tiga itu tidak mempan untuk perut saya. Disamping itu, mungkin karena baru puasa, jadi perut masih kosong kan, ya. Harusnya memang diisi dengan nasi. Tapi, saya sok kuat dan sok merasa hebat!. Sebenarnya banyak sekali hikmah dan pelajaran yang bisa saya ambil dari pendakian pertama saya ini. Insya Allaah akan saya lanjutkan pada postingan berikutnya. Saya mau share pengalaman pendakian saya secara detail. Karena malam ini saya mau melanjutkan coding. Hehehew

PROGRAM

Buat digunakan besok. . :mrgreen:

Iklan

9 komentar

  1. Jan njawani banget lho …
    urung mangan sega urung krasa madang … 😀

    1. Hahahaha.. . 😛

  2. Ya ternyata mendaki gunung itu emang gak boleh main-main ya Mbak. Selain harus memperhatikan kesehatan tubuh, stamina dan kebugaran juga. Semoga hikmah ini bakal jadi modal untuk pendakian selanjutnya, Mbak 🙂

    1. Selanjutnya pingin ke Merbabu, Bu. 😀

  3. yang penting taruh puncak pendakian 5km di depan mata ya mba idah ceris 😀

    1. Haaaaaah?
      Apa itu, Mas Aulia? 😀

      1. itu semangat dari film mendaki gunung 😀

  4. […] ini untuk melengkapi postingan Hampir Pingsan Saat Pendakian. Kali ini saya mau share apa saja yang saya persiapkan ketika akan mendaki ke Gunung Prau. Ini […]

  5. pengalaman pertama di prau memang penuh kesan dimana ketika saya ndaki ke sana harus merasakan hujan deras petir menyambar di tengah hutan yang lebat licin gag ketulungan kaki keram beberapa kali.. dan ketika turun harus merasakan gelinding untung di tangkep temen kalo gag lanjut ke jurang seberang..

Hayoo...Ngomen dengan bijak, ya! ^_*

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: