Akhirnya Dilelang

Rabu lalu, saya merasa gagal menjalankan manajemen waktu. Sebelumnya, Selasa pagi pekerjaan kantor tidak bisa disambi, karena ada masalah teknis pada jaringan. Begitu bodohnya saya, gara-gara masalah teknis ini saya meninggalkan sholat berjama’ah di kantor.  Sampai akhirnya, hari itu juga saya lembur sampai pukul 19.00 WIB. Sesampainya di rumah, masih ada sedikit tenaga tersisa. Langsung mandi, suci dan berniat mau memulai program One Day One Juz (ODOJ) lagi.

Saya sudah mengantongi Juz 17 malam itu. Tapi, manusiawi banget, saya lebih memilih untuk makan malam dulu, daripada tilawah. Dan, sudah bisa ditebak. Setelah makan, saya tidooor.šŸ˜† Rabu pagi, masih segar.  Setelah dapat tiga lembar, saya memilih jalan-jalan pagi ke Tandon, sampai matahari menyapa. Pikir saya, tilawahnya dilanjut nanti saat jama’ah di kantor.

Dan, apakah ini ndilalah?. Sesampainya di kantor, server down!. Berkutat pada jaringan, naik-turun lagi dan lagi. Sampai saya tidak ikut jama’ah sholat Dzhuhur. Saat itu, waktu berjalan begitu cepat. Pekerjaan utama gak kepegang, karena dikerjain sama jaringan. Sampai akhirnya, saya di PM sama salah satu teman satu group ODOJ. Menanyakan, tilawah sudah sampai mana?. Karena, hari Rabu khatam-nya pukul 16.00 WIB.

Seketika, saya memilih pasrah. Dan, saya minta tolong kekurangan tilawah (bagian saya) untuk dilelang. Rasanya takut banget. Mau menyelesaikan, takut gak tercapai, malah nanti mengecewakan teman-teman yang lain. Keputusan yang gak adil memang. Tak mampu menyelesaikan tilawah, tapi pekerjaan terselesaikan. Lagi-lagi manusiawi.

Sampai rumah langsung ngelendot Ibu dan bercerita. Hmmmm. . . dan Ibu sangat menyayangkan, karena menurutnya gak ada kata ndilalah. Hanya saja, saya tidak dapat memprioritaskan kegiatan. Kurang bertanggungjawab dan terlalu takut pada dunia. Hiks. Tidak bermaksud begitu, Ibuuu. “Bukankah kau tau, adakalanya ibadah itu harus dipaksakan. Tandanya manajemen waktu yang kamu buat udah gagal. Segera buat lagi”. Ibu kembali berkata-kata, ketika saya masih lelah. Ibu paling tau, waktu yang tepat untuk berbicara. Karena, kalau keadaan sudah fresh kembali, saya justeru gak mengindahkan kata. Hiks hiks hiks. Saya terimaaa, saya mang salah. Semoga kejadian ini gak akan terulang lagi. Harus lebih bisa mengatur waktu. Dan semoga gak ada kepasrahan dan gak ada lelang lagi.

8 komentar

  1. Saya pun merasa menajemen waktu yg saya buat sering kali gagal… Jadi ada penyesalan gitu dah..

  2. sukses untuk odoj nya ya mbk….semangattttšŸ˜€

  3. Hehehe..Insya Allah lain waktu akan menang melawan godaan hati ya Mbak. SemangatšŸ™‚

  4. Salam Takzim
    ODOJ adalah pekerjaan yang paling dibenci sama syetan tuh, mangkanya berbagai godaan ditebar disepanjang perjalanan.
    Salam Takzim Batavusqu

  5. I’m gone to convey my little brother, that he should
    also pay a quick visit this blog on regular basis to get updated from hottest
    reports.

  6. awalnya memang berat tpai makin kesini Insya Allah terbiasa. Selalu mendahulukan Allah Insya Alalh kegiatan lainnya mengukuti. Semanagt terus idah

  7. Salut aku sama kamu da.. Semoga next time bs ngatur manajemen waktu nya hehehe

  8. Huhuhuhu… emang harusnya dipaksakan ya *ketok kepala sendiri* makasih ya sudah diingatkan

Hayoo...Ngomen dengan bijak, ya! ^_*

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: