Menghilangkan Kata Tumben

Secara gak sengaja, akhir-akhir ini sering banget dengar kata Tumben. Enggak di tempat kerja, di rumah atau sesekali duduk santai dengan teman. Tumben, kalau dalam bahasa keseharian saya, biasa diucap dengan kata Kedingaren. Kedingaren ini bahasa Jawa.

Saking sok seriusnya menghayati kata ini, saya sampai mencari tahu arti kata Tumben melalu KBBI Online. Berikut arti yang saya dapat dari KBBI Online.

tum·ben /tumbén/ Jk p 1 mula-mula sekali: — ia baru minum jamu; 2 ganjil benar kali ini (tidak sbg biasa atau menyalahi dugaan): — malam-malam begini keluar, ada apa sih!

Sudah baca, kan, contoh penerapan kata Tumben. Contoh penerapan kata tumben pada kalimat di atas?. Pada p 1, jarang banget diterapkan dalam percakapan sehari-hari. Sedangkan Tumben pada kalimat p 2 inilah yang sering banget saya dengar. Dan, Tumben p 1 bisa dibilang tumben positif. Sedangkan yang p 2 cenderung tumben negatif.

Langsung pada inti saja, ya. Saya mulai enggak suka mendengar kata Tumben. Karena, penerapan yang selama ini sering saya dengar, dominan dipakai untuk kalimat negatif. Banyak banget contohnya. Sample saja, ya.

1. Tumben, ya, Si A mentraktir kita. – Kenapa harus kata tumben yang keluar?. Dan, kalimat tersebut akan menimbulkan dampak negatif, jika Si A sampai mendengarnya. Karena, otomatis dia tersinggung, kan?. Dan, kemungkinan dia gak akan mentraktir kita lagi. Kenyataan pahit, kan?.:mrgreen:
2. Tumben banget datang pagi. – Kenapa harus kata tumben yang keluar?. Dengan keluarnya kata tumben, ada kemungkinan Si A besoknya akan berangkat seperti biasa, lebih siang atau bahkan siang banget.
3. Ada acara apa?. Tumben banget ngasih baju koko. – Kenapa harus kata tumben yang keluar?. Gak adakah kata lain yang lebih maknyus, lebih enak didengar dan lebih lezat dilidah.

Cukup tiga contoh saja, ya. Rasanya sudah males banget mendengar kata Tumben. Dan, jika saya boleh kasih saran. Ada baiknya kata Tumben dihilangkan saja, kalau berniat untuk dipakai pada kalimat negatif.

Ada baiknya kata Tumben diganti dengan kata Alhamdulillaah. Supaya rezeki bertambah, ada peningkatan kinerja dan timbul kebaikan-kebaikan lainnya.

Ini sesekali ngomong kata Tumben, malah beniat menghilankan, ya. Hahaha. Maafkan, deh, ya. Sebenarnya penerapan pada ucapan atau kalimat tergantung pada individu masing-masing, sih. Tapi, saya lebih sering mendengar dari sisi negatifnya. Jadi, akhirnya suka bikin keki, deh.

Apa pendapat teman-teman sekalian tentang kata TUMBEN?.  Masihkah mau menggunakannya?. Atau, adakah tips, solusi untuk menata kalimat biar lebih manis?.:mrgreen:

14 komentar

  1. sejak mbiyen wis sering ngmg tumben, kalau gak tumben ya ngmge ‘kok’

    Kok kamu datange kesiangan?
    kok koe nganggo klambi mbayakk?

    aku lumayan sering ngmg tumben, tp memang dikondisikan sesuai dengan kalimatnya…

    tapi bagus juga kalo diganti alhamdulillah

  2. Menurut saya sih tidak usah diganti, toh memang tumben punya makna sendiri.

  3. tumben pertamax, biasanya aku komen2 disini belakangan.
    Tumben bisa uga diartikan ujug2 / kok ndilalah ya de’ ?
    Kalau tumben = alhamdulillah, setuju. agar rezeki bertambah.

  4. makasih Idah udah diingeatkan, aku ganti kata tumben dalam percakapan

  5. Tumben saya komen … eh salah, Alhamdulillah saya bisa komen di sini😉

  6. duuh makjleb inih. aku sering ngomong tumben niy klo becandaan sama temen-temen…. alhamdulillah yaa baiknya…🙂

  7. Aku jadi inget ada orang nasehatin buat jangan bilang ‘Untuuung’ misalnya case ‘untuuung ga ketabrak’ ‘untuuuung ga kena’… Katanya sik lebih baik bilang hamdalah.
    Tapi oke juga kalau bilang ‘untung’ terus. Apa-apa ‘untung’~ lalaaaaa lalalalaaaa

  8. Masih dong. Aku mau kasih tau matt juga hihi

  9. Idem..aku juga sudah belajar memangkas kata-kata yang kurang “sreg” dengan kata yang penuh doa… seperti alhamdllilah, bismilah ..hehehehe

  10. Tumben Saya Komentar disini🙂

  11. suka deh sama postingan yang model model kayak gini
    ngasih penjelasan bahasa indonesia yang baik dan benar
    jadi gak melulu bahasa gaul kayak anak anak muda jaman sekarang
    hehehhee

  12. Idaaaaah…
    kok tumben sih posting tentang tumben…hihihi….

  13. Tumben nih mbah idah nulis ttg tumben #eh

  14. tumben Idah posting ttg pelajaran bahasa Indonesia :p

Hayoo...Ngomen dengan bijak, ya! ^_*

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: