The Power Of Positive Thinking

Zaman dulu kala, kilas baliknya lumayan jauh. Ketika saya masih MTs. Ada satu kejadian yang sampai sekarang masih saya masih ingat kronologi kejadiannya. Kejadian yang cukup mengagetkan dan hampir membuat saya mengeeluarkan air mata.

Selesai menempuh pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah, sebagian besar teman-teman saya melanjutan ke SMP yang jaraknya tak jauh dari tempat tinggal. Jarak tempuh cukup 5 menit saja dari Desa saya. Sedangkan saya? Saya diarahkan Bapak untuk masuk MTs, dimana jarak tempuhnya sangatlah jauh (perasaan saat itu). Dari rumah dua kali naik angkot. Angkot pertama, dari rumah-PLN. Lalu, dilanjutkan naik mini bus dari PLN-MTs.

Saya masih ingat, dulu naik angkot tarif pelajar Rp 700,-. Saya dikasih uang saku seminggu sekali Rp 100.000,-. Suatu hari Bapak memberi uang saku Rp 110.000,-. Tandanya, saya mendapat tambahan Rp 10.000, senangnya minta ampun. Langsung niat banget buat traktir CERIS. :mrgreen: Uang lembaran 10ribu niat buat bayar angkot. Saya taruh disaku baju. Uang 100ribuan disaku rok.

Rezeki oh rezeki, berangkat pagi bareng Uwa sampai PLN. Lumayan banget ngirit Rp 700. Lanjut naik mini bus, dapat mini bus yang penuh dan kondekturnya sangar. Pagi-pagi udah nerveous. Agak takut nanti turunnya didorong sama kondekturnya. Karena, mini bus T***H biasanya gitu. Seenaknya sendiri nurunin penumpang.

Entah karena gugup atau saking takutnya, saya ngasih uang yang ada di saku rok. Lalu, saya dikasih kembalian Rp 9.000. Setelah sampai kelas, mau iuran arisan, saya baru sadar. Kalau ternyata, saya memberi  uang 100ribuan ke kondektur mini bus. Uwouwoo, udah mau jatuh saja air mata ini.

Seketika keringat dingin keluar, lemas, lunglai dan bingung.  Rasanya ingin sekali mengejar mini bus itu. “Ya Allah, saya sudah janji mau traktir teman-teman. Saya juga harus iuran arisan. Belum lagi nanti pulangnya gimana? Apakah sisa uang ini cukup untuk keperluan saya hari ini?

Sebelum ditagih CERIS, saya pun menjelaskan kepada mereka kalau saya baru saja mendapat musibah. Alhamdulillah mereka mengerti. Dan, saya terharu ketika masing-masing berbagi uang saku mereka kepada saya. Katanya, sih, buat jaga-jaga. Siapa tahu butuh uang lebih pas jalan pulang.

Seharian saya enggak mood belajar. Teman sebangku seakan ikut merasakan kesedihan saya. Dia terus memberi support dan meminta saya untuk berprasangka baik dan berpikir positif. Katanya, supaya saya bisa lebih tenang dan bisa mengikhlaskan apa yang sudah terjadi.

Ketika masih jam pelajaran, dia menggambar yang lucu-lucu supaya saya bisa senyum. Dia juga memberi note “Insya Allah akan mendapat ganti yang lebih”. Ilustrasi yang ia gambar cantik dan lucu banget. Sungguh, saya merasa bahagia mempunyai teman sebaik dia.

Setelah shalat berjama’ah, saya bisa merasa tenang. Masuk kelas pun sudah merasa adem. Teman saya masih berusaha meyakinkan saya untuk tetap berpikir positif. “Jangan dendam sama kondektur lho, ya. Berpikirlah positif atas kejadian ini, ambil hikmahnya“.

Saya pun terus berusaha bepikir positif, meski belum bisa 100% bersih. Masih ada rasa sedih, sekian prosen. Sampai akhirnya, jam pelajaran habis. Dan, arisan kelas dikocok. Dan, lintingan yang jatuh itu atas nama saya. Alhamdulillah, Allah Maha Mendengar.

Saya banyak belajar dari musibah yang pernah saya alami dulu. Menguatkan diri dan berpikir positif ini penting banget ketika kita sedang mendapat musibah. Karena, dengan cara tersebut, saya bisa belajar ikhlas. Selalu ada rencana baik dariNya.

Arti ikhlas sesungguhnya bagi saya yaitu ketika saya bisa berpikir positif atas suatu musibah. Bisa memetik hikmah atas suatu musibah. Sampai akhirnya,  saya bisa yakin selalu ada rencana yang lebih indah dariNya. Lalu, ada satu rasa yang akan mendampingi saya. Yaitu IKHLAS.

Akhir kata, saya ucapkan terima kasih untuk Teman satu bangku. Semoga kamu sehat dan bahagia selalu di Pulau yang jauh di sana. 😳

QuotesCover-pic58

Tulisan ini diikut sertakan dalam GIVE AWAY TENTANG IKHLAS 

Iklan

11 komentar

  1. Kondekturnya mungkin ngira itu uang 10 ribu

  2. ‘kehilangan’ untuk memperoleh yang lebih baik dan pelajaran ikhlas yang luar biasa.
    sukses di GA-nya.

  3. walaupun kesel tapi haru sikhlas ya Idah

  4. huhu… makjleb bacanya.

  5. Tulisan ini sederhana kisahnya namun dalam sekali merasuk ke hatiku, karena saat ini saya merasa dizalimi oleh berapa orang tetangga, namujn juga dibela terang2an berapa orang tetangga… jelas sekali dalam hidup ini ada yg ‘suka dan tidak suka pada kita. Nice info 🙂

  6. uang saku hampir sebulanan melayang bersama angkutan umum… rasanya… Hmmmm..

  7. selalu positive thinking itu bagus biar gak berkerut terus wajahnya hihi

  8. Bener bgt ya mbak klo kita hrs berpikiran positif dalam menghadapi segala musibah, dengan demikian rasa dendam atau sakit hati yang bercokol di tubuh kita akan lenyap. Anggap saja itu bukan rejeki kita dan yakin bahwa Allah pasti menggantinya.

  9. Sukses deh GA nya..

    Dan kudu tetep jaga keikhlasan lho yaaa… 🙂

  10. titi esti · · Balas

    ya ampuuuun… Idaah.. kebayang deh perasaanmu saat itu… buatku yang udah segede sekarang ini aja kalau ketukar seratus ribu dan sepuluh ribu rasanya gimanaaa… gitu, apalagi buat anak usia smp…

  11. Pengalaman idah bagus juga, jadi lebih menambah keyakinan saya agar selalu berfikir positif.
    🙂

Hayoo...Ngomen dengan bijak, ya! ^_*

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: