Mbonceng

Mau kemana, Bu?“. Tiap kali naik sepeda motor, kemudian melihat ada seorang  perempuan berjalan, saya berusaha untuk menawarkan jasa mbonceng. Tidak memandang siapa perempuan itu dan tinggal di mana.

Perempuan tersebut satu desa; OK. Atau, lain desa? Tetap OK. Tapi kalau lain desanya jauh, melebihi desa saya, biasanya aku kompromi dahulu. “Nanti mboncengnya sampai terminal ya, Bu. Mau, kan?“. Seperti it biasanya.

Mari ikut saya, Bu. Kita sejalan, kok“.

Saya memberi tawaran hanya kepada perempuan, yang mana mereka mau berpegangan. Entah itu pegangan pundak, baju, atau bagian belakang jok. Terpenting bukan perut. Geli banget, karena perut saya kan seksi. Hahaha Meski banyak pilihan, saya selalu menyarankan untuk pegangan di peeer. Tujuannya, supaya nyaman di saya dan semoga nyaman juga di pembonceng.

Sampai suatu hari, saat akan berangkat kerja, ada seorang perempuan (sebut saja Bu Karta) paruh baya berjalan seorang diri. Saya bertanya kepadanya. “Hendak kemana, Bu?”. Kemudian tak lama beliau menjawab, kalau akan ke desa Kenteng, yang berarti satu jalan dengan saya.

Dengan alasan bahwa saya tidak membawa helm, saya pun menyampaikan kalau nanti Bu Karta bisa turun di pinggir jalan raya, kemudian dilanjutkan naik angkutan.

Motor yang kami naiki baru melaju beberapa meter. Dan Bu Karta tiba-tiba jatuh. Padahal, saya sudah melihat dengan jelas, kalau beliau pegangan kuat di bagian belakang jok motor. Jadi saya yakin beliau akan nyaman dan aman.

Tapi, tidak disangka kalau Bu Karta ternyata saat itu sedang dalam keadaan pusing dan hendak ke puskesmas. Sebelumnya, saya tidak mengetahuinya sama sekali kalu beliau sedang pusing. Beliau jatuh dengan posisi badan menengadah ke atas dan kepala terbentur aspal. Saya syok banget!

Saat itu juga, saya merangkul beliau, mengajaknya untuk segera duduk di teras Sekolah. Saya mulai cek satu per satu anggota badannya. Sampai akhirnya, saya memegang roknya dan ternyata rok yang dikenakan berbahan sutera.

Aduh…pantas saja. Bisa jadi beliau duduknya nggak nyaman. Merosot, karena kain sutera kan cukup licin, ya. Hiks

Dari kejadian di atas, saya belajar banyak hal sebagai ojek. 😉 Harus lebih hati-hati, teliti dan aktif. Saya sudah membuang jauh kata “trauma” yang tadinya terus menempel dibenak saya. Pada akhirnya, saya yakin ini memang musibah. Takdir. 🙂

Iklan

15 komentar

  1. wah, kasihan si bu ya untung aja gk cedera kepalanya terbentur aspal,,
    aslmkm,, mbak idah,, lama gk ketemu gmn nih kbrnya. kelhatanya aktif terus ya blognya dari sejak 3thn lalu,, kira2 masih inget saya gk ya,, hehe,,,

  2. Untung bu karta ny gak apa apa ya idah… mungkin lain kali penumpangnya di asuransi kan aja ya… hehehe

  3. Semangat dan perbuatan yg mulia ini mba Idah, setiap kejadian dan musibah pasti ada hikmah. Jangan lelah untuk berbuat bagi sekitar 🙂

  4. didaerahku gitu juga mbak, siapapun nyari2 kendaraan yg gak ada yg bonceng dan mereka bisa ikut

  5. Alhamdulilah gpp

    Udah deg2an aja tadi 🙂

  6. huaa baiknya 🙂 jarang2 orang kayak gini hehe

  7. Duh, trus bu Karta kondisinya gimana? Semoga gak apa2 ya…

  8. Kepala Bu Karta gimana mba?
    Mg cpt sehat ya Bu Karta.

  9. Takdir itu artinya … ‘malang tak dapat ditolak dan mujur tak dapat diraih ya..?
    Itulah yg saya alami waktu rumah kami ikut habis terbakar … 😦
    lihat post : ^Tiang itu tetap kokoh …
    salam …

  10. wah baik banget ternyata mw numpangin tetangga2, jangan kapok dan trauma yah! lain kali dsuruh duduk cowo aja pas bonceng jd biar g gampang jatuh

  11. 🙂
    Lain kali yang mbonceng harus ditanya dulu, “sampun bu…” setelah itu baru deh motornya di gas

  12. Jadi lain kali dilihat dulu bahan roknya ya idah 🙂 asyik banget sih kalau ada ojeg kaya idah

  13. Duh manis budinya Mbak Idah, tawaran mbonceng pastinya sangat menghangatkan hati wanita yang mbak Idah sapa. Non mbok saya ditawarin mbonceng Salatiga-mBanjarnegara…
    Salam

  14. Waaah kaka idah baik banget semoga suatu saat waktu jalan kaki ketemu cewek baik kaya kaka idah yang mau mboncengin

  15. Kok bisa jatuh ya, ngegasnya spontan ya mbak idah..

Hayoo...Ngomen dengan bijak, ya! ^_*

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: