Lepas Alas Kaki

Permintaan untuk “Lepas Alas Kaki” setidaknya sering saya jumpai pada dua tempat. Yaitu di pintu masuk toilet umum dan depan mushala sebagai tanda batas suci.

Pernah ada kejadian yang menggelikan seputar alas kaki. Suatu ketika, saya sedang antre di toilet umum dekat terminal bus pasar senin. Di pintu masuk toilet, ada seorang laki-laki yang menjaga kawasan toilet.

Penjaganya tidak seperti penjaga toilet pada umumnya yang cukup duduk sembari menunggu kotak amal. Di sampingnya terdapat alat tempur yang cukup lengkap seperti ember, kain pel, gayung.

“Mas, besok kalau mampir toilet ini, mohon sepatunya dilepas, ya. Pesan di depan pintu toilet terbaca kan?” Ujar penjaga toilet tadi kepada pekerja bangunan yang sepertinya baru pulang. Sepatunya memang dekil banget. Tanah, semen, pasir, masih menempel di sepatu.

“Hlaa…saya kan pakai sepatu, Pak. Ngga pakai sandal. Wajar, dong, kalau tidak saya lepas. Pesan yang tertempel saja jangan lupa lepas sandal. Pembelaan yang menggelikan, meski memang masuk akal.

Sembari mengelus dada, penjaga toilet meminta maaf atas ucapannya yang mungkin sudah menyinggung perasaan si pemakai toilet. Aduuuh…kemana perginya naluri, ya? ๐Ÿ˜†

Intinya, kalau ingin menulis pesan sebaiknya secara global, umum, menyeluruh. Lepas alas kaki, misalnya. Itu akan lebih tepat ketimbang jangan lupa lepas sandal. :mrgreen: Sebab, sikap mawas diri, toleransi, tenggangrasa, tiap manusia berbeda. Apalagi kalau berdasar pada tingkat kecerdasan. ๐Ÿ˜† *apa hubungannya e*

Iklan

3 komentar

  1. Jooos. ๐Ÿ™‚
    Udah lama gak main kemari. Hihi. .

  2. Yaha, niatnya global tapi eksekusinya restriktif. Astaga, itu kayaknya saya kenal tipe-tipe orang seperti si pemakai toilet, kita tidak bisa menyalahkan karena penafsirannya logis. Astaga yang kedua, sebenarnya hukum di negara kita banyak sekali yang eksekusi dalam regulasinya seperti kasus ini, dan itulah yang membuat peraturan perundangan di negeri ini gampang banget dicari loop hole-nya, lha wong grey (atau gray?) areanya banyak banget! Agak miris *tepok jidat*.

  3. aku belum pernah IDah masuk toilet diminta lepas alas kaki. Tapi pernah masuk apotek disuruh lepas alas kaki, tapi aku bandel gak mau ๐Ÿ˜€

Hayoo...Ngomen dengan bijak, ya! ^_*

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: