Ibu dari Banyak Anak

Ada seorang perempuan yang aku panggil Ibu, sudah aku anggap seperti orangtuaku. Beliau adalah isteri dari pimpinanku.

Panggilan kepada seorang perempuan yang telah mengantar kita ke dunia: Ibu.

Perempuan yang kita anggap seperti orangtua kita: Ibu.

Panggilan untuk seorang perempuan yang sudah bersuami: Ibu.

Sapaan kepada seorang perempuan yang sudah punya anak: Ibu.

Definisi dari orangtua, khususnya seorang Ibu, kini makin luas. Memiliki banyak makna.

Di rumah aku punya satu Ibu yang begitu menyayangi, mengerti dan memahamiku. Beliau menerimaku apa adanya, sebagai anak yang pasti banyak kekurangan dan suka sekarepe dewek.

Post blog ini bukan untuk sosok Ibu yang telah merawatku semenjak kecil hingga aku dewasa sampai kini aku telah menjadi seorang Ibu juga. Melainkan Ibu yang selama ini begitu perhatian sama anak-anaknya. Ya, ngga hanya perhatian sama aku saja, melainkan sama rekan kerjaku juga yang notabenenya masih “kecil”, beliau juga care.

Ibu. Beliau ngga pernah sekalipun terlihat lemah. Selalu nampak sehat, bergas, dan penuh energi positif. Sekali ngobrol dengan beliau, akan mendapat banyak pengetahuan, baik itu tentang pekerjaan, maupun hal lain yang pada akhirnya bisa membuka wawasan lebih luas (lagi).

Ibu. Perempuan ini begitu menginspirasi. Banyak pengalaman yang beliau share sehingga makin banyak ilmu yang aku (dan mungkin rekan kerjaku) dapat.

Ibu. Orangtua yang selalu memberi yang terbaik untuk anak-anaknya. Perhatian, support dan sampai pada kenang-kenangan. Jika ada salah satu anak yang -menurutnya- perlu diajak ngobrol untuk kebaikan, beliau langsung mendekatinya. Ngga sungkan apalagi segan untuk sekadar saling berbagi, mengingatkan dan memberi ini itu untuk anak-anaknya.

TAS FURLA

Dari Ibu. . .

Pemberian dalam hal apapun pasti akan bermanfaat. Seperti wejangan, misalnya. Jika untuk kebaikan, maka akan teringat terus sampai akhir hayat. Terlebih, kenang-kenangan dalam wujud barang. Akan terus melekat karena tiap hari melihat pemberiannya atau bahkan menggunakannya. Seperti tas dan juga baju yang aku kenakan di atas adalah salah satu dari sekian banyak pemberian dari Ibu.

Ngga hanya di tempat kerja yang sekarang, tak lain adalah tempat aku bekerja. Di tempat kerja Bapak yang dulu, Ibu juga baik dengan anak-anaknya. Aku yakin, selalu ada kenang-kenangan yang didapat oleh anak-anaknya. Entah itu laki-laki atau perempuan, Ibu ngga pernah membedakan. Kasih sayangnya begitu tulus. Seperti Bapak yang tiap kali memberikan titipan dari Ibu, beliau selalu berkata: “Ini ada titipan dari Ibu buat kamu. Dicoba dulu ya, Nduk. Insya Allah pas dan mudah-mudahan kamu suka.” Itu pun tulus. Sangat tulus.

Telinga dan hati rasanya adem banget saat mendengar Bapak berkata: “Insya Allah pas dan mudah-mudahan kamu suka.” Entah kenapa, rasanya ada “sesuatu” yang membuatku trenyuh, bahagia. Kata-kata yang sederhana, namun penuh arti. Di dalamnya, ada sebuah kasih sayang yang begitu tulus.

Makasih buat orangtua yang selama ini sudah menginspirasi, banyak memberi, dan juga menerima. Menerima segala tindak tandukku yang -mungkin- bikin hati Bapak dan Ibu kurang berkenan. Barokallah buat Bapak dan Ibu.ūüėČ

Pssssst…ini kenapa endingnya kayak lagi pidato, ya. Hahaha

Baca juga Bandeng Juwana, Oleh-oleh khas Semarang.

Hayoo...Ngomen dengan bijak, ya! ^_*

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: