Maha Kaya

Jam kerja selama bulan ramadhan alhamdulillaah maju satu jam. Artinya, berangkat siang, tapi pulang lebih awal.

Hari pertama puasa, siang itu (6/6), aku merasa tidak tenang. Entah karena apa, yang jelas aku ingin segera pulang. Padahal jarum pendek pada jam dinding baru mengarah pada angka sepuluh.

Hari itu terasa lambat. Sangat lambat. Sampai akhirnya jam 14.30 WIB, aku menuju kamar mandi untuk memerah ASI. Rutinitas ini biasanya aku kerjakan jam 11.00 dan 15.00 WIB. Namun, aku mengubah kebiasaan waktu memerah ASI selama bulan ramadhan. Yaitu pada jam 10.00 dan 14.30 WIB.

Aku mengeluarkan pompa ASI dari dalam tas. Sela beberapa menit, botol yang aku gunakan untuk wadah hasil pompa penuh. Aku pun segera memindahkannya ke dalam botol kaca asi.

Proses memindahkannya hanya membutuhkan waktu beberapa detik. Namun, saat tahu aku tidak membawa tutup botol, aku langsung lemas. Aku belum selesai memerah. Masih ada satu sisi yang belum aku perah. Sembari melanjutkan memerah, aku pun punya ide untuk ditutup dengan plastik bersih.

Alhamdulillaah…lanjut memompa. Tapi apakah cukup hanya dengan plastik?

Tidak!!!

Setelah selesai memompa, aku menuju dapur. Meletakkan ASIP di atas lemari kaca dengan ditutup tisu terlebih dahulu, kemudian mencari karet.

Alhamdulillaah…karet aku dapat dari Bu Umi. Teman satu ruang yang merasa geli tiap kali melihat karet. Plastik, aku membawa plastik ukuran  satu kilo gram di dalam tas. Aku melipatnya menjadi dua, lalu kujadikan tutup botol. Tak lupa plastiknya aku satukan dengan ujung botol, lalu aku ikat dengan karet.

Aku bahagia. Selesai sudah satu permasalahan yaitu ASIP. Aku merasa lebih tenang.

Sampai akhirnya jam pulang tiba.

Deras. Sore itu hujan deras tanpa kompromi. Aku tidak membawa payung untuk menuju tempar parkir motor dan mengambil mantel. Beruntung, jaket yang yang aku kenakan anti air. Jaket gunung.

Aku menerobos hujan. Berlari menuju sepeda motorku bersama Mas Hudan yang sudah siap pulang dengan mantel biru.

“Ya ampun…di motorku tidak ada mantel, Mas.” Tuturku kepada Mas Hudan. Aku kaget. Lalu, aku kembali menuju halaman kantor, depan kantor persis di mana Bu Dina, Mbak Widi dan Bu Umi masih berada di depan halaman. Menunggu hujan reda.

Masak iya, aku hujan-hujanan? Gimana nasib ASI-ku ini? Panikable.” Batinku sore itu.

Biasanya, mantel sudah siap dipakai. Dijapit, gitu. Harapanku, di bagasi ada mantel barang atasan saja tidak masalah.

Tapi ternyataa…tidak ada mantel yang biasa aku pakai. Ada satu mantel plastik, mantel yang biasa disebut mantel Abang Becak.

Aku bahagia. Betapa Dia terus, terus, dan selalu memberiku kemudahan dalam segala hal, urusan.

Dia Maha Kaya. Apa yang ada di bumi bisa dimanfaatkan. Betapa Maha Kaya, otak yang diberiNya tak hentinya berputar. Berpikir bagaimana caranya untuk mendapat apa yang dibutuhkan.

Maha Kaya. Terima kasih, Tuhan.

4 komentar

  1. kok bisa pada kelupaan, terburu2 ya?

  2. Yang penting semua sehat-sehat ya Dah …
    Terus beri ASI

    Salam saya

  3. jadi inget film mcgyver jaman saya kecil dulu, kalau lagi butuh apa2 barangnya langsung muncul hihihii

Hayoo...Ngomen dengan bijak, ya! ^_*

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: