Tulis, Lalu Kerjakan

Malu tidak mempunyai program, merupakan salah satu poin dari 10 budaya malu yang kerap dibaca, dan diikrarkan saat apel Senin di tempat kerjaku.

Tidak terpaku pada pangkat, jabatan, dan apapun pekerjaannya, rasanya akan lebih tenang jika mempunyai program kerja. Ada banyak manfaat dengan menulis semacam daftar pekerjaan yang akan diselesaikan pada hari itu, dalam kurun waktu tertentu. Satu bulan, misalnya.

Rasa-rasanya lebih aman dari sisi tanggung jawab. Lebih nyaman saat mengerjakan. Lebih menikmati karena punya tarjet. Bukan seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Bingung. Apalagi para pekerja kantoran yang sudah jelas diberi tanggung jawab di mana biasanya tertuang dalam job description. 😛

Tiga puluh hari dalam bulan ini, kerjaan kantor yang aku selesaikan ngga cukup banyak. Tarjet-tarjet yang sudah kubuat pun hanya dua yang goal. Malu? Pasti. Karena ngga sesuai dengan apa yang telah aku tulis, dan tarjetkan pada awal bulan.

Artinya, aku ngga kompeten bulan ini. Ngga tanggung jawab dengan apa yang telah aku tulis.

Kuakui, semangat kerjaku bulan ini menurun. Kerap datang terlambat barang dua sampai lima menit. Entah karena apa, yang jelas aku ngga akan menyalahkan long weekend yang beruntun di bulan ini. Hahaha.

Adakah masalah? Ngga ada. Aku merasa baik-baik saja dengan pekerjaanku, rekan kerjaku, begitu juga dengab keluargaku.

Berbeda dengan bulan-bulan sebelumnya, apa yang telah aku tulis dalam agenda, nyaris dapat aku kerjakan seluruhnya. Sampai-sampai aku kerap lupa waktu. Sudah saatnya jam pulang, masih asyik menyelesaikan pekerjaan kantor. Kadang sampai ditegur Pak Minhad atau Pak Pardi: ‘Ayoo pulang, Jasmine sudah menuggu.’ Kalau sudah ditegur demikian, aku baru tersadar kalau sudah lewat jam pulang.

Semangat kerja menurun, atau malas bekerja. Rasa-rasa seperti ini -mungkin- pernah juga dirasakan oleh teman-teman, ya? Tanpa alasan, dan datang tiba-tiba.

Entah dalam pekerjaan apapun: kantor, rumah, blogging, terpenting tulis apa yang akan dikerjakan. Tulis, lalu kerjakan sesuai apa yang telah ditulis. Meski kadang apa yang direncanakan ngga sesuai dengan yang prakteknya. Semisal sedang malas, bisa saja skip pekerjaan. Yang perlu diingat, apa yang telah ditulis dan masih utuh, belum dikerjakan, bisa dikerjakan lain hari. Menjadi tarjet hari berikutnya.

Asli, ini postingan serius banget, ya. Hahaha. Maaphkan. 😛

Iklan

Hayoo...Ngomen dengan bijak, ya! ^_*

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: