Hujan, Petang dan Trauma

Hari ini, aku melewati gerbang pintu keluar kantor kira-kira pukul 17.50 WIB. Tumben banget pulang sampai melebihi jam kerja. Habis lembur, Buk? Ngga, niatku hanya menunggu hujan yang turun dari sore agak reda karena aku ngga membawa mantel dan ngga berani menerjang hujan. Bahkan aku ngga nyangka bakal pulang sampai se petang ini. Dan saat aku memutuskan untuk pulang, hujan pun masih lebat.

“Waaah…bisa jadi jalanan sudah sepi, nih.”  Ada sedikit rasa takut dan was was karena aku jarang pulang kerja di atas jam 17.00 WIB. Apalagi katanya hujannya merata. Dududdu…Tapi setelah keluar pitu gerbang, nyatanya aku tertahan hampir lima menit di tepi jalan karena ngga berani menyeberang. Ya, ternyata jalan masih ramai dan bahkan sangat ramai karena para pekerja pabrik baru pulang.

Sebenarnya aku ngga menyeberang, hanya akan belok kiri mengikuti arus jalan. Tapi aku ngga punya keberanian karena banyak motor yang melaju dengan kecepatan tinggi dari arah barat. Dengan pasrah, aku menunggu jalan agak sepi.

Kalau melihat kondisi seperti ini, aku sangat bersyukur. Maksudnya, aku yang tiap hari pulang kerja pukul 16.00 WIB saja sudah merasa sore banget. Tapi saat pulang lebih dari jam itu, khususnya hari ini, ternyata masih banyak para pekerja pabrik bulu mata dan wig yang juga pulang petang. Bisa jadi, mereka pulang petang tiap hari karena aku ngga tahu jam kerja mereka..

Perjalanan dari kantor menuju rumah terus diguyur hujan. Beruntung dapat pinjaman mantel dari Pak Angkat. Jadi ngga begitu klebes bajunya. Karena hujan, aku ngga berani jalan di atas 50 km/jam. Seperti menikmati, tapi dalam kesusahan. Kaca Helm dibuka, air hujan bakal ke wajah dan kacamata. Ngga dibuka, ngga bisa melihat jalan dengan jelas. Bila ada sorot lampu yang berlebih, aku memilih untuk menepi dan berhenti sejenak.

Ngeselinnya, nih, pikiranku terus saja bersugesti jelek. Yang bakal nabrak lah, bakal ketabrak, dll dll. Astaghfirullah. Rasa-rasanya ada trauma untuk pulang terlambat. Keadaan masih di atas sepeda motor, aku seperti berjanji bahwa, aku ngga bakal pulang petang lagi kecuali lembur kerja. Semisal sampai pulang malam dan hujan deras, aku lebih memilih untuk dijemput meski jarak dari kantor ke rumah paling lima belas menit.

Duuh…kerja di kota sendiri saja ngedrama banget, ya. Ini ngedramanya sih karena hujan. Semisal terang, pulang sampai petang tak masalah. 🙂

Iklan

2 komentar

  1. aku banget…yang kalau hujan terus berkendara pake helm pasti bakalan susah untuk melihat objek di depannya, mau dibuka mata pasti perih karena kena air hujan jadi ya solusinya pas hujan dan kepaksa di jalan, berkendaranya alon2 persis asal selamat


    https://polldaddy.com/js/rating/rating.js

  2. iya, masih beruntung ya jarak rumah dah tempat kerja nggak begitu jauh, jadi waktunya nggak habis di jalan


    https://polldaddy.com/js/rating/rating.js

Hayoo...Ngomen dengan bijak, ya! ^_*

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: